21.7.09

TENTANG KERUDUNG / JILBAB

Tentang Kerudung / Jilbab

Tanya:

Pak Pendeta, kampanye pilpres ini membuat saya terusik juga karena simbol-simbol keagamaan mulai dibawa-bawa. Sebagaimana kita ketahui, belum lama ini ada parpol yang mengusulkan agar istri capres SBY dan istri cawapres Boediono memakai jilbab. Usul ini mungkin untuk mengimbangi istri-istri Pak Jusuf Kalla dan Wiranto yang mengenakan jilbab.

Hala Santama


Jawab:
SAUDARAKU Hala Santama yang dikasihi Tuhan, menarik apa yang Anda pertanyakan. Mengenai simbol-simbol keaga-maan dibawa-bawa, khususnya dalam konteks kampanye bukan hanya monopoli pemakaian jilbab saja. Dalam menarik simpati kons-tituen hampir setiap partai mema-kai simbol-simbol keagamaan se-suai dengan target yang ingin dicapai. Soal simbol keagamaan seperti ini menurut hemat saya tidaklah elok dibawa ke ranah politik. Hal seperti ini sangat rawan benturan dan kecurigaan menda-lam antara masing- masing peng-guna simbol. Di sisi lain juga sangat manipulatif terhadap kemurnian keimanan, apa pun agamanya.

Nah, dalam kasus SBY-Boediono, apa yang diusulkan parpol koalisi adalah dalam rangka membangun citra yang muslimah. Di sini, kasus-nya bisa berbeda dengan pema-kaian simbol keagamaan umum-nya. Misalnya istri Pak JK dan Wiran-to, setahu saya selalu berjilbab, jauh sebelum kampanye. Jadi, jilbab bagi istri pasangan JK-Win gaya berpakaiannya, yang sering disebut sebagai model yang musli-mah. Bahwa kemudian, jika istri masing-masing pasangan SBY-Boediono juga memakainya dalam masa-masa kampanye ini, tentu saja tak dapat kita larang. Ada banyak alasan untuk menggunakan jilbab, sekalipun mungkin hanya sesaat. Itu soal pemakian jilbab dalam masa kampanye.

Lalu, mengapa wanita Kristen masa kini tidak mengenakan keru-dung? Mari kita lihat apa yang ter-catat di Alkitab. Dalam Alkitab ada disebut tentang “ikat-ikat kepala” yang biasa dipakai perempuan Israel, semacam selendang, yang da-lam bahasa Ibrani disebut mith-pakhat (Yesaya 3: 23). Paulus mengajarkan agar perempuan-perempuan Korintus mengenakan tudung kepala (1 Korintus 11: 2-10). Penutup kepala untuk pe-rempuan, atau yang biasa kita sebut kerudung adalah bagian dari cara perempuan Israel berpakaian. Kerudung ini terdiri dari beberapa macam. Untuk perempuan kala-ngan atas, biasanya mereka mema-kai kerudung yang lebih panjang. Sementara pada perempuan kelas bawah, kerudung juga sering dimanfaatkan untuk membawa atau membungkus barang.

Nah, ini lebih menyangkut kepada tradisi Yahudi ketimbang unsur teologis. Jadi dalam tradisi Yahudi, bahkan kemungkinan di wilayah Timur Tengah, pemakain kerudung adalah biasa. Dan keru-dung sudah dikenal sejak era Perjanjian Lama, jauh sebelum Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia. Bah-wa, apakah tidak se-baiknya wanita Kristen di Indonesia berkeru-dung, itu adalah hal yang relatif, itu soal selera berpakaian. Para suster misalnya, semua memakai kerudung se-bagai uniform mereka. Dengan mudah kita bisa mengenali suster Katolik dengan pakaian mereka yang khas. Namun, dalam Protestan juga ada susteran seperti yang diketuai oleh Ba-silea Schlink. Mereka juga memakai kerudung yang sama dalam model yang sedikit berbeda.
Jadi, orang Kristen di Indonesia yang memakainya juga ada, yaitu para suster. Artinya kerudung ini bukan hal yang asing bagi kekris-tenan. Bahwa berkerudung diang-gap sebagai pakaian yang sopan, agung dan berwibawa, sangat ter-gantung pada pemakainya. Karena Alkitab juga mengajarkan bahwa kecantikan sejati (sopan, agung, wibawa) seorang wanita bukan terletak pada pakaian atau perhia-sannya, melainkan sikap hatinya (Amsal 31: 30).

Nah, Hala yang dikasihi Tuhan, menurut hemat saya, kerudung biarlah dipakai sebagai kesukaan dari seseorang, bukan sebagai kewajiban, apalagi paksaan. Dan seperti yang dikatakan di atas, pakaian memang bisa saja mencermikan pribadi si pemakai, tetapi juga bisa jadi “pembungkus” suatu rahasia. Akhirnya, sekali lagi, yang penting adalah perilaku pemakainya.
Dalam konteks Korintus, Paulus meminta wanita berkerudung sangat lokalistik, karena dia tidak me-nuliskan itu kepada jemaat perem-puan di kota lainnya. Korintus me-mang diwarnai oleh berbagai hal yang tidak sejalan dengan kekriste-nan, mulai dari makanan berhala, hingga penyalahgunaan kebebasan. Paulus ingin jemaat itu hidup tertib (1 Korintus 14: 40), dalam ibadah, termasuk dalam berpakaian. Jadi konteks ini tidak dapat digeneralisasi. Hal yang situasional, yang sangat bergantung pada kondisi yang ada, bisa jadi pilihan yang tepat, dan memiliki nilai lokal yang baik. Kasus ini mirip dengan sunat bagi orang Yahudi. Mereka terjebak hanya pada nilai sunat secara ritual saja, padahal Tuhan mau sunat juga harus dipaha-mi sebagai sunat hati (spiritual). Ak-hirnya sunat yang memang baik secara medis itu menjadi kehilangan makna yang sesungguhnya.

Jadi, jika ada perem-puan Kristen yang me-makai kerudung, dia tidak boleh terjebak pada model pakaian itu. Dia tidak boleh berpikir bahwa dengan berpa-kaian seperti itu maka dia adalah wanita yang baik. Karena sifat baik bukan soal model pa-kaian, melainkan perila-ku hidup. Jaman seka-rang, di era fashion yang multimodel, banyak fal-safah yang coba diba-ngun. Model pakaian diberi makna yang men-dalam, namun sangat “aksesoris”, karena sama sekali tidak mencermin-kan originalitas karakter pemakai-nya. Dan inilah era kita.
Akhirnya berkerudung atau tidak, sah-sah saja, tetapi me-nyimpulkan bahwa perempuan berkerudung berarti perempuan yang sopan, agung dan wibawa, tentu saja patut dipertanyakan, sekalipun sebagai model memang tampak sopan. Demikianlah Hala Santama yang dikasihi Tuhan, jawaban yang dapat saya berikan, semoga bisa menjadi inspirasi dan berkat yang limpah

JIKA ALLAH ITU KASIH, MENGAPA ADA NERAKA?

Jika Allah Maha Kasih, Mengapa Ada Neraka?

Tanya:
Bapak Pengasuh yang baik, saya ingin bertanya: 1. Kalau memang Allah mahakasih, mengapa harus ada neraka? Dan kalau Allah hadir, mengapa tidak semua orang selamat? 2. Menurut Bapak, siapa sebenarnya nenek moyang kejahatan itu? Kalau kita berdosa disebabkan oleh pribadi lain, bukankah penyebab pertama yang seharusnya bertanggung jawab terhadap dosa tersebut, bukan manusia.

Theo

-------------------------------------------------------------


Jawab :
Sdr. Theo yang kekasih, pertanyaan yang Anda ajukan bukan hanya satu, tetapi saya akan coba jawab sebagai satu kesatuan. Hal ini agar alurnya menjadi jelas dan diharapkan juga bisa menjelaskan berbagai kemungkinan pertanyaan lainnya yang mungkin masih tersisa.

Allah Mahakasih, itu sudah pasti dan sesuai dengan kesaksian Alkitab (I Yohanes 4:8, dan ayat lainnya). Dengan adanya neraka, apakah itu berarti Allah tidak mahakasih? Mari kita bandingkan dan pikirkan: Apakah adanya penjara sebagai bukti negara tidak memiliki kasih (baca: tanggung jawab)? Jika orangtua memukul anak, apakah itu berarti kebencian? Justru jika orangtua tidak memukul anaknya, atau tidak ada penjara bagi penjahat, artinya kasih tidak ada. Kasih mendidik dan bertanggung jawab. Harus diingat, kasih tanpa hukum adalah liar, dan hukum tanpa kasih adalah ilegalistik.

Jadi kasih tidak bisa berdiri sendiri tanpa hukum. Dan kasih tidak dapat dipahami tanpa hukum (jadi adanya neraka malah menolong kita memahami kasih Allah). Sementara neraka adalah buah karya orang berdosa yang tidak bertobat. Harus diingat, yang pertama kali berdosa adalah manusia, karena tidak menaati perintah Tuhan. Dalam konteks dosa, kewajiban Tuhan hanya satu yaitu menghukum manusia sesuai ketentuan yang ada. Jangan makan (buah di tengah Taman Eden), jika engkau makan maka engkau akan mati (Kej 2.17). Manusia (Adam dan Hawa) melanggarnya bersepakat dengan Iblis, yang berarti melawan perintah Allah. Neraka menanti hasil perbuatan manusia.

Jadi, neraka adalah buah karya manusia, bukan Allah. Semua manusia sudah seharusnya masuk neraka, tapi Allah malah menyelamatkan mereka yang percaya (kok mau ya?), Itulah kasih yang maha. Dengan demikian, bagaimana kita mengatakan bahwa Allah tidak mahakasih? Tidak semua manusia selamat, karena tidak semua percaya dan masuk dalam kasih karunia. (Ingat, dalam konteks ini Allah tidak berkewajiban menyelamatkan, sebaliknya menghukum). Itulah sebabnya Allah yang mahahadir, mahatahu, dan mahasuci itu disebut mahakasih karena menyelamatkan manusia yang seharusnya binasa. Nah, jatuhnya manusia ke dalam dosa disebabkan manusia sendiri yang mau mempercayai godaan iblis, dan mengabaikan perintah Allah.

Penyebab pertama yang mesti dihukum, itu sudah pasti. Iblis, bapak segala dosa, sejak awal sudah dihukum, diusir dari surga karena pemberontakannya sebagai malaikat Tuhan (sama seperti manusia yang ingin sama dengan Allah). Lalu iblis ini mencari pengikut dengan cara yang sama yaitu menggoda manusia untuk menjadi sama dengan Allah. Dan manusia mau dengan segenap hati, ya sudah selayaknya dihukum.

Contoh lain. Ada seorang pencuri profesional mengajak orang lain mencuri, lalu ditangkap polisi. Apakah orang yang hanya ikut-ikutan ini akan dibebaskan? Tentu tidak bukan? Karena dia melakukannya dengan kesadaran penuh. Jangankan melakukan pencurian, menyembunyikan penjahat yang buron saja sudah merupakan kejahatan. Jadi sesungguhnya tidak ada masalah dengan adanya neraka, malah sangat perlu, karena kita jadi tahu betapa Allah mengasihi kita sehingga kita bebas dari neraka. Kalau tidak ada neraka, bagaimana kita tahu Allah itu mahakasih?

Sebagai manusia berdosa yang dengan kesadaran penuh ikut berbuat dosa, dengan tidak mempercayai Allah sudah selayaknya kita masuk neraka. Tetapi kita diselamatkan-NYA. Mari, dengan jujur kita melihat kehidupan kita setiap hari, apakah ada hari tanpa dosa (iri hati, tidak puas, benci, dan lain-lain)? Kalau Allah tidak mahahadir dalam kehidupan kita, kalau Allah tidak memelihara kita, kalau Allah tidak mengampuni kita, kalau dan kalau lainnya, akan jadi apa kita ini?

Nah, Sdr. Theo, kita patut bersyukur karena mengenal dan dikasihi Allah yang mahakasih itu. Sekarang adalah tugas kita mengingatkan sebanyak mungkin orang agar percaya kepada Yesus Kristus juruselamat dunia penebus dosa, agar mereka tidak masuk neraka. Bukankah kita tidak suka dengan neraka? Maka jangan biarkan orang lain masuk ke sana. Syalom.