Showing posts with label KHOTBAH-KHOTBAH. Show all posts
Showing posts with label KHOTBAH-KHOTBAH. Show all posts

21.7.09

SPIRITUALITY TYPES

Setiap orang memiliki cara berpikir, cara bersikap dan cara berhubungan yg unik dengan orang lain. Demikian juga saat kita berhubungan dengan Tuhan. Tipe-tipe spiritualitas merupakan berbagai macam cara orang berhubungan dengan Tuhan.

Ada 7 tipe kerohanian, dimana masing-masing orang memiliki minimal 1-2 yang paling alamiah dan 1-2 yang membutuhkan usaha untuk melakukanya:

  1. Tipe Pemikiran (Intelektual)
    Merasa sangat dekat dengan Tuhan ketika belajar sesuatu yang baru tentang Tuhan, benar-benar tahu tentang apa yang diyakini, senang belajar Alkitab & buku rohani, gemar mendiskusikan hal-hal doctrinal. Contoh : Rasul Paulus.
  2. Tipe Penyembahan
    Merasa sangat dekat dengan Tuhan dalam ibadah pujian penyembahan, bersemangat memuji Tuhan, senang dengar lagu rohani. Contoh dalam Alkitab: Daud (menulis banyak mazmur)
  3. Tipe Naturalis
    Merasa sangat dekat dengan Tuhan melalui alam ciptaan-Nya, mudah tersentuh hatinya menyaksikan Allah dalam keindahan alam. Contoh : Saya sendiri, hehehe...
  4. Tipe Aktivis
    Merasa sangat dekat dengan Tuhan saat melayani Tuhan dalam gereja dan masyarakat, kepedulian social tinggi, bersemangat untuk ambil tindakan nyata, rela berkorban untuk perubahan yang baik. Contoh: Nehemia
  5. Tipe Perenungan (Kontemplatif)
    Merasa sangat dekat dengan Tuhan ketika sendiri dengan Tuhan dalam keheningan dan keteduhan, senang merenungkan Tuhan dalam kesendirian, tidak terburu-buru. Contoh: Maria (SAUDARA Marta)
  6. Tipe Persekutuan (Relasional)
    Merasa sangat dekat dengan Tuhan ketika berkumpul bersama orang lain, mementingkan komunitas, mendorong dan menjaga hubungan dengan orang lain, senang ikut kelompok kecil. Contoh: Petrus
  7. Tipe Pelayanan
    Merasa sangat dekat dengan Tuhan ketika menolong dan meringankan beban orang lain,senang mengunjungi orang lain, rela menyumbang untuk kebutuhan orang lain, peduli orang sakit & menderita. Contoh : Dorkas.

Kita dapat terus bertumbuh dalam hubungan dengan Tuhan sesuai tipe kerohanian kita masing-masing. Kita harus terus bertumbuh “mengasihi Tuhan dengan segenap hati” dengan mengembangkan hubungan dengan Tuhan sesuai tipe kerohanian kita dan “mengasihi sesama seperti diri sendiri” dengan menghargai tipe kerohanian oran lain dan tidak memaksakan harus sama dengan kita.

1.6.09

KEMURAHAN HATI

Orang Yang Murah Hati

Pendahuluan.
Baca Lukas 10: 25- 37 !

Hari ini kita akan melihat sebuah perumpamaan, mengenai ‘orang (Samaria) yang murah hati,’ atau the parable of the unexpected neighbor. Dalam perumpamaan ini terdapat ‘the element of surprise’, karena jawaban Tuhan Yesus terhadap pertanyaan ahli Taurat tersebut, tidak seperti yang di harapkannya.

Ada beberapa perumpamaan yang diceriterakan oleh Tuhan Yesus terdapat the ‘element of surprise’:
Perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15)
Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Matius 19)
Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai (Lukas 18)

Point utama dari perumpamaan ini terdapat pada ayat 29, ‘Tetapi untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” ‘
Bertolak dari pertanyaan ini timbullah tanya- jawab diantara seorang ahli Taurat dan Yesus.

“Tetapi untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu berkata kepada Yesus…..”.
Ahli Taurat ini mencoba untuk membenarkan dirinya atau dengan kata lain, ia mencoba untuk menutupi rasa malunya dihadapan semua orang, karena Yesus telah memberikan jawaban yang sangat sederhana untuk menjawab pertanyaannya tersebut.
Sebagai seorang ahli Taurat, sudah seharusnya ia tahu jawaban dari pertanyaannya itu. Oleh karena ia merasa malu dan tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Yesus, maka ia bertanya, “Dan siapakah sesamaku manusia”?

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan mengatakan sbb. “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah Tuhan” (Imamat 19: 18).

Lalu Yesus memberikan jawaban melalui sebuah ilustrasi/ perumpamaan.
Baca Lukas 30-35!

Ada seorang melakukan suatu perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Jarak dari Yerusalem ke Yerikho 17-miles. Perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho dikenal sebagai The Way of Blood, karena dalam perjalanan tersebut sering terjadi perampokan dan pada umumnya si korban ditinggalkan dalam keadaan luka-luka parah.

Dalam kejadian ini, Yesus mengatakan, orang yang jatuh ketangan penyamun ini bertemu dengan tiga tipe orang:

1) Perampok
Tipe orang yang mempunyai motto, “Yours is mine.” Orang yang melakukan perjalanan ini bukan saja di rampok melainkan juga dipukul hingga luka parah.

2) Imam dan orang Lewi
Tipe orang yang mempunyai motto, “Yours is yours, mine is mine.”
Para Imam dan orang Lewi itu melayani di Bait Allah, di Yerusalem. Pada biasaan, sewaktu mereka diluar tugas (day off), mereka pergi ke luar kota. Ketika mereka melalui jalan yang sama dan melihat orang yang jatuh ketangan penyamun tersebut dalam keadaan luka parah, mereka melewati seberang jalan (tidak memperdulikan sama sekali). Tentunya dua alasan kenapa Imam dan orang Lewi tersebut melakukan hal ini, yakni:

a) Mereka takut kalau mereka pun akan di rampok. Karena pada umumnya, perampok-perampok tersebut bersembunyi di sekitar tempat kejadian.

b) Mereka takut kalau tercemar. Menurut hukum Taurat, para Imam dan orang Lewi tidak boleh menyentuh orang mati.

3) Orang Samaria
Tipe orang yang mempunyai motto,”Mine is yours.”

Untuk seorang Samaria menolong orang Yahudi, itu hal yang sangat extra-ordinary/tidak umum.

Ada tiga resiko yang diambil orang Samaria tersebut:

a)  Bisa saja orang Samaria tersebut dituduh sebagai pelakunya.
Orang Yahudi sama sekali tidak bergaul dengan Samaria. Orang Yahudi sangat meremehkan orang Samaria. Mereka mempunyai prasangka yang buruk dan rasis terhadap orang Samaria. Seperti orang Palestina dengan orang Israel di Timur Tengah, suku Tamil dengan Singhale (penduduk asli Sri Langka) di Sri Langka. 

b) Orang Samaria tersebut dapat mengalami hal yang sama seperti orang yang jatuh ketangan penyamun itu.

c) Orang Samaria tersebut harus mengeluarkan biaya untuk merawat orang yang jatuh ketangan penyamun itu.

Jadi, bagi orang Samaria tersebut untuk menolong orang yang jatuh ketangan penyamun itu merupakan resiko yang cukup besar!

Lalu diakhir ilustrasi ini,Yesus bertanya kembali kepada ahli Taurat ini :”Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ketangan penyamun itu?” . Nah, jawaban dari ahli Taurat ini, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”.
Jadi, apa point dari perumpamaan ini? Dan bagaimana aplikasinya?

Untuk kita dapat mengerti perumpamaan ini, maka kita harus kembali kepada pertanyaan ahli Taurat tersebut, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Who is my neighbor?). Bertolak dari Imamat 19: 18, si ahli Taurat berharap Tuhan Yesus memberi jawaban yang sepandang dengan dia, “Sesama orang-orang Yahudi!” Tetapi, kenyataannya adalah ‘orang Samaria.’

Suatu kali ketika terjadi rasis antara orang Chinese dan Melayu asli di Malaysia, banyak orang –orang Chinese yang tidak mendapatkan kesempatan untuk kuliah di beberapa top Universitas di Malaysia. Akhirnya, orang-orang Chinese menyekolahkan anak-anak mereka ke England. Dan setelah selesai kuliah di sana, mereka memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Malaysia, melainkan menetap di England.

Suatu kali, Michael Griffiths (Overseas Missionary Fellowship) di undang untuk berbicara di antara para sarjana Chinese- Malay. Dia mencoba untuk menjelaskan kepada mereka perumpamaan Yesus dalam Lukas 10 ini.
Suatu kali seorang Chinese businessman yang kaya –raya, dengan Mercedes-nya sedang dalam perjalanan dengan sopirnya menuju ke Subang Airport di Genting Highlands untuk bermain judi, seperti yang dilakukannya sebagai rutinitas.
Di tengah perjalanan tiba-tiba sekelompok Chinese gangs memberhentikan mobil mereka, lalu sopirnya ditembak, dan Chinese businessman ini ditarik keluar dari Mercedesnya, di pukulin sambil ditelanjangi. Gangs ini mengambil seluruh apa yang ada didalam mobil termasuk uang, jam tangan Rolex emas dan credit-cards dari Konglomerat tersebut. Gangs ini kemudian, mengempeskan ke -empat ban Mercedes, dan memecahkan seluruh kaca mobil lalu meninggalkan Konglomerat ini dalam keadaan telanjang dan luka parah.

Tidak lama kemudian, lewat sebuah mobil Mercedes yang kebetulan didalamnya seorang Chinese businessman bersama dengan sopirnya. Ketika Chinese businessman ini melihat kejadian tersebut, ia menyuruh sopirnya untuk berjalan pelan-pelan. Setiba ditempat kejadian tersebut, Chinese businessman ini melihat orang yang penuh darah dimukanya, memohon pertolongan. Lalu Chinese businessman ini memerintahkan sopirnya untuk segera pergi dari situ, takut kalau itu merupakan suatu jebakan.

Tidak lama kemudian, serombongan tourist dari Singapore melewati tempat kejadian tersebut. Ketika mereka melihat kejadian tersebut, mereka berpikir untuk melaporkan ke polisi setempat. Tetapi beberapa diantara mereka ada yang mengatakan supaya tidak mencampuri kejadian ini. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Awana Country Club untuk bermain golf.

Menjelang hari gelap, seorang tukang sate yang sedang dalam perjalanan kembali kerumahnya dengan sepedanya, melewati tepat kejadian tersebut. Lalu si tukang sate ini berhenti dan mendudukkan Komlomerat yang setengah mati tersebut di sepedanya, dan mendorong sepedanya dari samping, kemudian membawa kerumah temannya yang kebetulan tidak jauh dari tempat kejadian tersebut. Setelah sampai di rumah temannya, mereka berusaha membersihkan luka-luka dan membalutnya serta memberikan makanan dan minuman. Malam itu, Komlomerat tersebut menginap dirumah teman dari tukang sate ini.

Sekarang pertanyaan kita dalam kejadian dengan Chinese Konglomerat ini, ‘who was a neighbor to the Chinese businessman?’ Apakah Chinese businessman yang kedua? Tidak! Apakah serombongan tourists dari Singapore? Tidak! Apakah si tukang sate? Ya!. Bye the way, tukang sate ini seorang Malay.

Sebenarnya pertanyaan ahli Taurat ini salah! Karena atas dasar jawaban yang Tuhan Yesus berikan, pertanyaannya seharusnya bukan, “Siapakah sesamaku manusia” ,Who is my neighbor?”, melainkan, “To whom can I be a neighbor to?” (Kepada siapa saya menjadi sesama?).

Perbedaan dari kedua pertanyaan, sbb.

Who is my neighbor (siapakah sesamaku manusia?), kalimat ini mengandung unsur pilihan, artinya kita dapat memilih siapa yang menjadi sesama manusia bagi kita. Demikian dalam hal pasangan, who is my future partner? Kita dalam posisi memilih.

To whom can I be a neighbor to (kepada siapa saya menjadi sesama?) kalimat ini tidak mengandung unsur pilihan, artinya kita dalam posisi tidak dapat memilih siapa yang menjadi sesama manusia bagi kita.

Sesamaku manusia (who is a neighbor) bukanlah seseorang yang membutuhkan pertolongan. Tetapi sesamaku manusia adalah orang yang dalam posisi menolong orang yang sedang dalam kebutuhan. Jadi, bukan orang yang telah jatuh ketangan penyamun, tetapi orang yang telah memberi pertolongan, yaitu orang Samaria.

Dengan kata lain, point dari perumpamaan ini sebenarnya, kita tidak berpikir bahwa orang lain merupakan sesamaku manusia (we not think of others as neighbors), melainkan, kita harus berpikir mulai dari diri kita sebagai sesama manusia terhadap orang lain (we should first think of ourselves as neighbors to them).

Jadi, Tuhan Yesus membuat points yang jelas dalam perumpamaan ini:
Jangan mencari sesama yang baik atau yang tepat untuk dikasihi, melainkan, menjadi sesama bagi semua orang yang membutuhkan (It is not looking for the right neighbor to love, but being the right neighbor to anyone in need). Sesamaku manusia (who is a neighbor) bukanlah seseorang yang membutuhkan pertolongan. Tetapi sesamaku manusia adalah orang yang dalam posisi menolong semua orang yang membutuhkan.

Kita tidak berpikir bahwa orang lain merupakan sesamaku manusia (we not think of others as neighbors), melainkan, kita harus berpikir mulai dari diri kita sebagai sesama manusia terhadap orang lain (we should first think of ourselves as neighbors to them).

Contoh:
Pada abad ke 19, ketika penginjil besar Amerika, D.L. Moody dalam perjalanannya ke England, tiba-tiba terjadi kebakaran dari sebuah kamar dalam kapal mereka. Lalu assiociate-nya berkata kepada D.L. Moody, “Apakah kita harus memberi alasan dan dan kemudian kita pergi untuk berdoa kesuatu tempat?” “Tidak!” Jawab D.L. Moody. Ia lanjutkan, “Kita harus membawa air di dalam sebuah ember dan pada waktu yang sama kita berdoa.”


KONKLUSI :
Apa yang kita pelajari dari perumpamaan ini?

I. Mengasihi sesama berarti memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkannya pada waktu itu

Gampang untuk mengasihi orang yang baik, dan orang yang satu marga, atau orang dalam satu suku. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak sebangsa atau rasis terhadap kita ?

Kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dengan perselisihan pandangan atau kesalahan paham.


II. Mengasihi sesama berarti berani mengambil resiko

Gampang untuk mengasihi atau menolong orang yang tahu diri, tetapi bagaimana yang tidak tahu diri? Dalam pelayanan kita dapat melihat beberapa tipe manusia:

Bagaimana kita dapat menolong orang yang membutuhkan pertolongan tetapi orang tersebut tidak mengakui hal itu (orang yang sombong)

Bagaimana kita dapat menolong orang yang selalu mengambil keuntungan atau menyalah gunakan bantuan kita (who abuses your help)

Bagaimana kita dapat menolong orang yang pernah mencelakakan, meremehkan, atau menfitnah kita?

Bagaimana kita dapat menolong orang yang selalu demanding dengan kita?
Tentu kita membutuhkan pengalaman dalam hal ini.


III. Mengasihi sesama berarti melihat Yesus dalam kebutuhan orang lain

Suatu kali hiduplah seseorang yang mempunyai suatu kerinduan yang sangat untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Suatu malam, Tuhan Yesus datang di dalam mimpinya, dan dalam mimpi tersebut Tuhan Yesus berkata, “Aku akan datang kerumahmu besok hari.”

Ketika orang ini bangun pagi- pagi, maka dengan penuh semangat, ia membersihkan rumahnya dan setelah itu ia mandi, lalu ia mengenakan pakaian yang rapih, dan duduk di kursi ruang tamu sambil menunggu kedatangan Tuhan Yesus.

Tiba-tiba pintu diketok, dan dengan hati yang berdebar-debar ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Setelah ia membuka pintu tersebut, ia menjadi kaget karena seorang peminta-minta yang berdiri di depan pintu sambil memohon sedekah kepadanya. Lalu ia mengusir peminta-minta tersebut sambil berkata kepadanya, “Aku sedang menantikan kedatangan orang yang terpenting saat ini.”

Ketika menjelang siang hari, tiba-tiba ia mendengar pintu diketok, dan dengan hati yang berdebar- debar serta dengan senyum yang lebar, ia membuka pintu. Kali ini di depan pintu berdiri seorang wanita yang penuh dengan luka-luka di mukanya. Wanita ini memohon pertolongannya, karena ia barusan berkelahi dengan suaminya, dimana suaminya memukulnya. Lalu ia mengusir wanita tersebut sambil berkata kepadanya, “Aku sedang menantikan kedatangan orang yang terpenting saat ini.”

Menjelang sore hari, ketika orang ini mulai tertidur dikursinya, tiba-tiba ia kaget dan terbangun ketika mendengar pintu diketok. Lalu ia berkata dalam hatinya, Kali ini pasti Tuhan Yesus. Dengan hati yang penuh keyakinan dan senyum yang lebar, ia membuka pintu. Kali ini di depan pintu berdiri seorang anak kecil yang sedang membawa kue dan menawarkan untuk membeli kue buatan orang tuanya. “Oom tolong beli kue buatan ibu saya karena kami sedang membutuhkan uang untuk membayar sewa rumah.” Lalu ia mengusir anak kecil tersebut sambil berkata kepadanya, “Aku sedang menantikan kedatangan orang yang terpenting saat ini.”

Akhirnya, orang ini menjadi jengkel karena tamu yang terpenting yang telah ditunggu-tunggunya tidak datang berkunjung kerumahnya. Malam itu, Tuhan Yesus datang kembali ke dalam mimpinya. Lalu orang ini bertanya kepada Tuhan Yesus, “Kenapa Engkau tidak menetapi janjiMu untuk datang berkunjung ke rumahku?”
Lalu Tuhan Yesus menjawab, “Aku telah datang tiga kali, tetapi engkau telah menolaknya.”

Matius, 25: 40, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Kadangkala kita terlalu rohani, sehingga tidak memperhatikan kebutuhan yang lain disekitar kita. Dalam tulisan Jim Wallis, ‘Faith that works’, ia mengatakan, “Pertumbuhan rohani dan iman seseorang itu selalu disertai dalam tindakan menolong mereka yang membutuhkan pertolongan kita.”

31.5.09

BERJALAN DI-ATAS AIR


Matius 14 :22-33: "Tetapi waktu Petrus melihat betapa besarnya angin di danau itu, ia takut dan mulai tenggelam. "Tuhan, tolong!" teriaknya."

Setelah lima ribu orang itu makan dengan kenyang, maka Matius mencatat bahwa Yesus melakukan sesuatu tindakan yang tidak seperti biasa. Umumnya Yesus langsung naik ke perahu bersama-sama dengan murid-Nya, tetapi kali ini Ia memerintahkan agar murid-murid- Nya berangkat terlebih dahulu, sementara orang banyak itu disuruh pulang. Yohanes 6 : 15 menjelaskan tentang latar belakang peristiwa ini. Ketika orang banyak itu insaf dengan mujizat yang telah terjadi, mereka mau memaksa agar Yesus menjadi raja. Tentu hal ini cukup positif; namun apabila Yesus menjadi raja yang baru di Palestina, maka langsung akan ada perang besar dengan raja Herodes Antipas dan dengan atasan raja Herodes, yaitu Kaisar Romawi. Memang benar Tuhan mempunyai rencana agar Yesus menjadi raja atas seluruh dunia, namun demikian Yesus tahu bahwa saat itu belum waktunya. Oleh sebab itu maka Yesus mengambil tindakan menjauhkan diri dari murid-murid- Nya. 

Malam itu juga kedua belas murid itu berdayung perahu, sementara Yesus berdoa di bukit. Sesudah beberapa mil mereka berdayung, tiba-tiba muncul angin sakal, angin yang berlawanan arah dengan perahu mereka. Murid-murid Yesus menjadi takut dan harus berdayung keras-keras untuk maju. Tambahan pula hati mereka masih belum tenang, karena tiba-tiba Yesus memisahkan diri dari mereka. Di saat-saat yang genting itu, Yesus tetap ingat murid-murid- Nya, sehingga kira-kira jam tiga malam Ia berjalan di atas air menemui mereka. Pada waktu melihat-Nya, mereka berpikir ada hantu, namun kata Yesus : "Tenanglah! Aku ini, jangan takut" Nah melihat Yesus berjalan di atas air, maka di ayat 28 Petrus berseru "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air" 

Bagaimana kita dapat berjalan di atas air? Apa makna rohani yang kita pelajari dari peristiwa ini?

1. Berjalan di atas air menunjukkan kehadiran Allah 

Petrus tidak bisa lepas dari karakternya yang cepat tanggap. Itu sebabnya tatkala Yesus berkata "Tenanglah Aku ini dan jangan takut" dengan spontan respon Petrus juga minta agar Tuhan memperbolehkannya berjalan di atas air. Petrus tidak bermaksud hendak mengadakan mujijat, sebab peristiwa berjalan di atas air bukan suatu yang asing. Orang kafir di India yang bertapa pernah berjalan di atas air. Saya juga pernah membaca seorang pesulap yang bernama Chris Angel juga dapat berjalan di atas air di Texas. Makanya di dalam konteks ini jelas sekali Petrus tahu bahwa Tuhan itu hadir. Dan kehadiran Tuhan itu sanggup menenangkan dan menghilangkan rasa takut. 

Jika kita baca dengan teliti, kehadiran Tuhan itu melebihi kecepatan murid-murid Nya mendayung perahu. Ini juga membuktikan kepada kita bahwa sebenarnya kehadiran Tuhan itu senantiasa lebih awal, walau sekalipun kita belum memikirkannya. Tuhan kita maha tahu, Ia sekaligus adalah Tuhan yang mengetahui dan mengerti kebutuhan kita; bahkan sebelum kita memintanya. 

Kalau kita memiliki Tuhan yang demikian, mengapa kita tidak meminta Dia juga hadir dalam kehidupan kita. Petrus telah meminta kepada Tuhan, sehingga ia dapat berjalan di atas air. Jika Petrus tidak memintanya berarti ia akan kehilangan kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya. Hari ini Tuhan itu hadir di tengah-tengah kita, jika kita tidak memakai kesempatan menerima kehadiran-Nya maka kemungkinan kita akan kehilangan kesempatan itu sama sekali. 

Menurut orang Tionghoa ada tiga tipe manusia di dalam melihat kesempatan itu. Yang pertama, orang yang lemah, menunggu kesempatan. Yang kedua, orang yang kuat, menciptakan kesempatan. Dan yang ke tiga, orang yang cerdik/bijak memanfaatkan kesempatan. Nah, bagi orang lemah, bila kesempatan belum datang, dia akan menunggu dan menunggu sampai kesempatan itu datang, Bila setelah ditunggu kesempatan belum juga datang, dia berpikir, dan berpasrah beginilah memang nasibku. Tipe manusia kedua: bagi orang kuat, bila kesempatan belum datang, dia akan mengunakan berbagai macam cara, kreatifitas, koneksitas, dan segenap kemampuannya untuk menciptakan kesempatan itu datang padanya. Sedangkan tipe manusia ketiga: bagi orang cerdik/bijak, dia akan memanfaatkan kesempatan itu, karena dia menyadari kesempatan adalah sesuatu yang berharga, belum tentu kesempatan itu datang untuk kedua kali. Saya tidak tahu tipe anda yang mana, namun yang pasti Petrus telah memilih posisi yang ke tiga, ia selalu menghargai kesempatan yang ada.

Saya sering mengatakan pada beberapa anak muda, mumpung gereja kita masih kecil, dan kesempatan anda terlibat dalam pelayanan begitu banyak; maka jangan sia-siakan itu. Selama masih terbuka bagi anda apalagi masih belum berkeluarga, pakailah kesempatan itu. Pernahkah kita berpikir ulang mengapa Tuhan memberi kesempatan kepada saya terlibat dalam pekerjaan-Nya? Apakah karena Tuhan kekurangan orang? Tidak ! Nah kalau hari ini kita diberi kesempatan, itu berarti anugerah. Hargailah, pakailah dan raihlah.

2. Berjalan di atas air juga berarti harus tanggalkan perahu

Petrus tidak dapat bertemu dengan Tuhan apabila ia tidak keluar dari perahu itu. Tidak gampang sebenarnya untuk memutuskan diri ke luar dari perahu itu. Walaupun di lautan banyak gelombang, paling sedikit lebih aman, lebih terjamin dan lebih nyaman bila berada di atas perahu. Keluar dari perahu berarti ada resiko basah dan resiko tenggelam dan mati.. 

Saya jadi teringat peristiwa tiga tahun yang lalu. Waktu itu bersama dengan beberapa pemuda ikut rafting di sebuah sungai. Sebelum berangkat saya sudah wanti-wanti tentang apa yang bakal terjadi bila saya sempat keluar dari perahu itu. Oleh sebab itu sebelum mulai Rafting seperti biasanya diadakan sedikit briefing untuk meberitahukan bagaimana supaya aman dalam perjalanan. Beberapa hal yang saya masih ingat terus antara lain; jika kita mendayung perlu seragam mengayunkan dayungannya, yang lain bila ada aba-aba tunduk kita harus taati, kemudian jika ada aba-aba hentikan dayungan, atau tiarap maka kita harus segera lakukan 

Ceritanya perahu kami yang ditumpangi tujuh orang itu mulai berjalan. Heran sekali, baru berjalan dalam hitungan beberapa menit ada seperti terjunan yang pertama. Semua sudah siap-siap. Perahu kami ikut melaju cepat, namun saya terdampar keluar dan masuk ke dalam sungai. Untungnya saya pegang erat tali yang ada di kapal, sehingga walaupun tubuhnya sudah masuk sungai, talinya masih melekat di tangan saya. Benar-benar basah kuyup, dan orang Indonesia bilang "untungnya" masih timbul keluar, sehingga hari ini masih bisa bertemu dengan anda.

Tidak gampang mengikuti Tuhan, bagi orang Kristen baru mungkin masih tidak terlalu sulit, paling dikatakan oleh sang pendeta percaya pada Tuhan Yesus maka engkau selamat sambil mengutip Kisah 16:31. Apakah hal itu salah? Oh tidak tentunya. Namun, setelah itu kita perlu bertumbuh; dan proses pertumbuhan itu memerlukan pengorbanan. Salah satunya yaitu kita harus menanggalkan perahu ini. 

Saya sendiri tidak tahu selama ini apa yang menjadi perahu anda? Apakah perahu anda adalah perusahaan orang tua dan segala warisannya? Apakah perahu anda itu adalah pekerjaan yang sedang anda kerjakan saat ini? Apakah perahu anda adalah kecerdasan yang anda milki selama ini? Apakah perahu anda adalah gelar anda? Jangan sampai "perahu" ini selalu menghalangi anda bertemu dengan Tuhan. 

3. Berjalan di atas air juga berarti harus fokus pada Tuhan

Petrus yang baru saja mengalami ketakutan karena angin sakal itu, sekarang ingin turun dari perahu untuk bertemu dengan Yesus. Satu pihak ia ingin memastikan bahwa yang di depannya itu benar-benar adalah Yesus, dipihak lain ia begitu yakin kalau Yesus yang mengijinkan dia berjalan di atas air sudah pasti aman dalam perlindungan-Nya. Namun siapa sangka, perkiraan Petrus meleset, justru ia hanya berjalan sebentar lalu tenggelam. Tentu kita bertanya, mengapa Petrus tenggelam? Bukankah Yesus yang menyuruhnya berjalan di atas air itu? Benar sekali, Yesus yang menyuruh Petrus berjalan di atas air, namun perhatikan ayat 30 " Tetapi ketika dirasanya tiupan angin" Terjemahan Alkitab Sehari-hari sama dengan beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris, bunyinya "But when he saw the wind" (NIV) , "Tetapi ketika, maksudnya si Petrus melihat betapa besarnya angin di danau itu" Memang sesungguhnya angin tidak bisa kita lihat, tetapi kita bisa mengerti kalau sekarang Petrus berada di atas lautan, sehingga tidak salah kalau terjemahan baru melogikakannya "Tetapi dirasakannya tiupan angin" 

Apa maksudnya ketika Petrus melihat betapa besarnya angin? Maksudnya adalah pada waktu itu fokus perhatian Petrus beralih, tadinya ia melihat Yesus dan tujuannya hanya menemui Dia. Namun godaan datang, sehingga ia beralih perhatiannya, dan Alkitab mencatat Petrus takut dan mulai tenggelam. Demikian juga hal iman kita, pada saat fokus kita pada Yesus, maka kita akan kuat dan tanpa ketakutan. Namun bila fokus kita pada yang lain, maka kita mulai merasa takut . Nah kelebihan Petrus adalah pada saat yang penuh ketakutan dan tenggelam itu, ia masih sadar dan berteriak minta tolong kepada Yesus. 

Ada banyak manusia yang pada waktu mengalami kesulitan berat lalu datang pada Yesus. Apakah hal ini salah? Tidak, orang ini telah memilih jalan yang benar. Ketika masih membutuhkan pekerjaan, mobil, anak dan harta kekayaan, ia bisa berdoa semalam suntuk dan berpuasa berhari-hari, namun bila semua sudah diperoleh, fokusnya bukan lagi pada Yesus. Fokusnya beralih pada segala materi dan benda tersebut. Ke gerejapun mulai malas, alasannya capek dan anak-anak tidak bisa bangun pagi-pagi (padahal yang malas bangun dia sendiri), pelayananpun dikurangi, alasannya sibuk. Nah, dalam kondisi yang demikian, apabila kita tetap terlena dan tidak sadar, maka kita akan tenggelam terus. Itu sebabnya, bila benar anda telah merasakan kondisi ini, sama seperti Petrus kita harus berteriak "Tuhan, tolong" Namun selanjutnya saya juga menemukan akhirnya ada banyak orang percaya seperti ini terus terlena dengan keadaaan ini, dan kemudian hilang dari gereja dan persekutuan. Bahaya sekali bukan!

Hari ini jika anda hendak berjalan di atas air, dan tetap dalam perlindungan Tuhan, maka yang pertama, anda harus menyambut kehadiran Tuhan, yang kedua anda harus turun dari perahu dan yang ketiga anda harus memfokuskan diri pada Tuhan. Ingat, kadang bukan angin badai, kesakitan, kemiskinan, sakit penyakit, atau kesusahan dan penderitaan yang membuat kita jauh dari Tuhan; tetapi bisa saja kesuksesan, kekayaan yang datangnya seperti angin sepoi-sepoi, dan akhirnya kita tenggelam. 

SELAMAT TINGGAL KEKUATIRAN

Satu kali Yesus memerintahkan murid-murid-Nya naik perahu berangkat ke seberang, ke Betsaida, tetapi ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau dan saat itu  perahu mereka diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal sehingga murid-murid menjadi sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan kata pertama yang diucapkan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah “Jangan takut!“

Markus 6:50b “Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!“  

Sebenarnya duduk persoalan yang dihadapi murid-murid saat itu bukanlah angin sakal, bukan karena perahu mereka sudah diombang-ambingkan gelombang, bukan karena sudah malam, bukan karena kegelapan yang mencekam, bukan karena suasana yang mencekam, tidak! Tapi masalahnya adalah MEREKA TAKUT.

Markus 6:48b "maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka."

Dan Ia hendak melewati mereka. Perhatikan kata melewati di sini. Pertama kali kita baca kita pasti bingung, karna saat itu murid-murid berada dalam keadaan yang sangat membutuhkan pertolongan tapi mengapa Yesus datang dan kemudian hanya melewati saja, pass by. Dalam terjemahan lain disebut “Dan Dia berjalan terus seolah-olah akan melewati mereka.“ Bayangkan, seharusnya ayat ini ditulis demikian: IA datang kepada mereka berjalan di atas air dan IA MENOLONG MEREKA. Tapi di sini mengapa Yesus hanya melewati mereka saja saat melihat perahu murid-murid-Nya sudah terombang-ambing oleh tiupan angin sakal, mengapa Yesus hanya melewati mereka saja?

Jawabannya karna Tuhan ingin supaya mereka mengalami pertumbuhan rohani, Tuhan ingin mereka bangkit, Tuhan ingin mereka menghadapi dengan berani, bukan dengan perasaan takut.

Misalkan ada seorang anak kecil yang berusia 3 tahun sedang belajar berjalan, kemudian ia terjatuh dan ia menangis. Bila ada orang yang melihatnya, apa reaksi orang itu? Tentu dengan spontan orang itu akan segera dan langsung menolongnya, mengangkat dan menggendongnya dan kemudian anak itupun merasa tenang. Tapi kalau saudara sudah berusia 30 tahun, berlari dan tersandung kulit pisang, lalu jatuh, apakah saudara akan menangis seperti anak kecil dan menunggu orang lain memapah kita bangkit kembali? Oh itu impossible, tidak mungkinlah, malahan kita akan berusaha untuk bangkit sendiri, bahkan kita akan dengan segera cepat-cepat bangkit supaya nggak terlihat orang lain, malu deh.

Nah, itu sebabnya Tuhan hanya melewati saja, sebab Tuhan ingin kita mengalami pendewasaan rohani, Tuhan ingin melihat sampai dimana dan bagaimana cara murid-murid-Nya mengatasi persoalan itu? Itu sebabnya kadangkala Tuhan tidak langsung menolong kita secara instan, dengan segera, langsung dan persoalan itupun selesai, tidak! Tapi Tuhan mau melihat bagaimana caranya kita mengatasi persoalan itu. Yesus hanya melewati saja, Yesus hanya melihat-lihat apa yang akan kita lakukan dalam mengatasi persoalan tersebut? 

Markus 6:49 “Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak ...“

Itu sebabnya jangan panik, jangan takut sebab kalau kita takut Tuhan itupun dikira hantu. Ketakutan itu sangat menyesatkan. Pada saat Adam takut, dia bersembunyi menutup-nutupi kekurangannya. Pada saat bangsa Israel takut, mereka itu marah kepada Musa bahkan mereka itu ingin balik kembali ke Mesir.

Keluaran 14:11-12 “dan mereka berkata kepada Musa: ”Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir. Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini. 

Mereka berkata demikian karena takut! Saat murid-murid itu takut, panik, Tuhan pun dikira hantu. Ketakutan bisa menghambat pertumbuhan rohani kita. Rasa kuatir; kuatir itu gelisah, kuatir itu takut. Rasa takut, cemas, kuatir harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan kita. Sebab kekuatiran itu bukannya bisa menolong kita malahan hanya merugikan rohani kita bahkan Matius 6:27 berkata “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Ini satu pertanyaan, jawabannya adalah TIDAK, justru kekuatiran itu menghambat pertumbuhan rohani kita. Menghambat, melumpuhkan, sehingga sekalipun kita tahu tujuan kita, kita tahu sasaran kita tapi kaki kita tidak mampu berjalan ke sana karna lumpuh, itu bagaikan ketakutan yang mencekam seseorang. Sudah tahu tujuannya, sudah tahu kemana dia akan pergi tapi dia tidak mampu, karna apa? Karena takut.

Itu sebabnya  menghadapi persoalan, jangan panik, jangan takut, tapi tetaplah berpegang pada Firman Tuhan. Kuasa Firman mampu menolong kita, Firman Tuhan merupakan kunci dan jawaban bagi persoalan kita. Firman Tuhan merupakan solusi bagi kita untuk menghadapi suatu masalah. Tetaplah berpegang pada Firman, jangan kita putus asa dan mudah kecewa sebab sepertinya Yesus hanya melewati namun sebenarnya IA sedang melihat bagaimana kita mengatasi persoalan yang sedang kita hadapi. Mari hadapi dengan Firman yang sudah IA bekali dalam hidup kita.

Perasaan takut itu membuat Adam bersembunyi. 
Perasaan takut itu membuat orang Israel ingin kembali ke Mesir, kembali ke dunia. 
Perasaan takut membuat murid-murid menjadi panik sampai-sampai Tuhan pun dikira hantu.

Itu sebabnya, mari, saat ini katakan pada rasa takut yang masih ada: Goodbye fear, selamat tinggal perasaan takut, kini hidupku sudah diubahkan Tuhan dengan kuasa Roh Kudus-Nya, dan sekarang dengan penuh keberanian aku akan melangkah dengan talenta yang ada untuk maju melayani Tuhan …

Goodbye fear, selamat tinggal perasaan takut, kini hatiku sudah tenang, sebab Yesus sudah mengangkat segala ketakutan yang ada saat IA berkata: Tenanglah, Aku ini, jangan takut! Goodbye fear, selamat tinggal rasa takut, sekarang yang ada padaku hanyalah ketenangan dan keberanian, sehingga saat persoalan datang kita tidak akan panik lagi, tapi bermodalkan Firman Tuhan kita sudah tahu bagaimana kita harus mengatasi masalah yang sedang menimpa kita. Mari mantapkan iman kita dan katakan sekali lagi: goodbye fear 

21.5.09

PRIORITAS YESUS ADALAH MISSI

PRIORITAS YESUS ADALAH MISI

Lukas 10:1-12

Bapak/ibu yang terkasih dalam Tuhan Yesus tema kita pada saat ini adalah Prioritas Yesus adalah Misi. Namun sebelum lebih jauh kita melangkah, kita mesti paham dan mengerti dengan jelas apa yang dimaksud dengan misi? Mungkin ada diantara kita yang dapat membantu kita dalam merumuskan apa itu misi …

Misi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan, oleh karena itu misi Yesus adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh Yesus dalam rangka menyelamatkan umat manusia. Kelahiran, karya-Nya dan bahkan sampai pada kematian dan kebangkitanNya merupakan rangkaian misi ditengah-tengah dunia untuk meyelamatkan manusia.

Pertanyaan bagi kita sekarang adalah apakah setelah Yesus meninggal, misiNya di tengah-tengah dunia juga selesai? Tentu tidaklah demikian. Kalau dulu penerus misi Yesus adalah para rasul, kini penerus dari misi Yesus adalah gereja. Ketika saya berbicara gereja, saya tidak sedang menunjuk pada gedung gereja, tetapi kepada gereja. Hal ini mesti jelas, sebab banyak orang Kristen yang salah pengertian. Mereka mengenal gedung gereja sebagai gereja, padahal yang dimaksud dengan gereja adalah “orang-orang yang dipanggil dari gelap masuk ke dalam terangNya yang ajaib”. Hal ini berarti saya dan kita sekalian atau kita sebagai individu dan kita sebagai perkumpulan yang lebih besar, yang merupakan pewaris dari misi Yesus.

Pertanyaan berikut bagi kita apakah gereja (saya dan saudara, termasuk persekutuan yang lebih besar) telah melaksanakan misi Yesus itu dengan benar dan dengan setia? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita mengkaji bagaimana sebenarnya cirri-ciri atau pola misi yang Yesus lakukan di muka bumi :

1. Bersifat ke dalam dan keluar. Apa maksudnya, jika kita melihat karya Yesus, Ia memerintahkan para murid untuk pergi ke kota-kota Israel dan hanya kepada bangsa Yahudi (Mat. 10: 5-6), akan tetapi Yesus sendiri sebenarnya lebih banyak berkarya dan melakukan mujizat ditengah-tengah masyarakat non Yahudi, misalnya di Kapernaum. Apa makna bagi gereja, bahwa misi tidak hanya bersifat ke dalam gereja saja, tetapi misi juga harus diarahkan keluar gereja begitupun sebaliknya.

2. Menembus batas-batas ras, suku, kebangsaan bahkan agama sekalipun, dalam kisah orang samaria yang murah hati, Tuhan Yesus menggambarkan bagaimana semestinya kita bersikap terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Orang samaria memiliki kepercayaan yang berbeda dengan orang Yahudi, begitu juga suku mereka berbeda, sekalipun sama-sama merupakan keturunan Abraham. Apa yang bisa kita petik bahwa gereja semstinya dalam melaksanakan misinya jangan terbatas pada batas-batas agama, suku, ras dan lain sebagainya.

3. Bersifat Holistik dan Komprehensif, apa maksudnya. Holistik artinya menyeluruh. Waktu Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh apa yang pertama Ia ucapkan kepada si lumpuh? Dosamu sudah diampuni. ……

Kemudian komprehensif artinya terus-menerus, waktu seorang muris bertanya berapa kali aku harus mengampuni saudaraku, Ia menjawab 77 kali 7 kali. Apa artinya, apakah Yesus mau mengatakan bahwa ia mengampuni sampai

539 kali? Tentu tidak. ….

Apa makna bagi gereja, bahwa pelayanan misi yang dilakukan oleh gereja juga mesti bersifat menyeluruh dan berkesinambungan.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah bahwa apa motivasi atau apa penyebab dari misi yang dilakukan oleh Yesus?

Jawabannya hanya satu Yoh. 3:16 ini penting sebab sekalipun 3 pola yang tadi saya paparkan sudah dilakukan oleh gereja, akan tetapi motivasinya tidak seperti motivasi Yesus, maka kita salah. Lalu motivasi kita apa ? Mat. 22:37-40.

Amin.

MENDUA HATI

SUCIKANLAH HATIMU HAI KAMU YANG MENDUA HATI

Yakobus 1 : 2-8


PENGANTAR

Surat Yakobus ditujukan kepada “semua umat Allah yang tersebar di seluruh dunia”. Dengan memakai berbagai peribahasa, Yakobus memberikan di dalam suratnya ini sejumlah petunjuk dan nasihat yang praktis untuk orang Kristen mengenai kelakuan dan perbuatan Kristen. Dari pandangan Kristen ia menguraikan berbagai pokok seperti misalnya kekayaan dan kemiskinan, godaan, kelakuan yang baik, prasangka, iman dan perbuatan, ucapan-ucapan mulut, kebijaksanaan, pertengkaran, keangkuhan dan kerendahan hati, hal menyalahkan orang lain, membual, kesabaran, dan doa.

Surat ini menekankan bahwa dalam menjalankan agama Kristen, iman harus disertai perbuatan.

ISI

Bapak/ibu, yang terkasih dalam Tuhan Yesus, secara khusus Yakobus 1 : 2-8 ini mau menjelaskan kepada kita tentang Iman dan Kebijaksanaan.

Ada banyak teori tentang apa itu iman? Saya yakin kalau kita berdiskusi tentang apa itu iman, maka banyak yang dapat membei penjelasan tentang apa itu iman. Ada yang bilang iman adalah dasar dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ada juga yang memahami iman sebagai sebuah pemahaman dan penghayatan kita terhadap diri Tuhan. Ada juga yang yakin bahwa iman adalah kepercayaan yang lahir dalam diri manusia setelah mengenal Allah. Dan lain sebagainya.

Yang saat ini sedang kita coba mengerti adalah menurut Yakobus apa arti iman buatnya. Mari kita perhatikan pembacaan kita kembali tentang apa yang dikatakan Yakobus tentang iman.

  1. ayat 2 & 3. Bagi Yakobus setiap orang pasti punya iman. Yang menjadi masalah adalah apakah Iman anda dan saya adalah iman yang tahan uji. Dan ujian yang paling baik bagi iman seseorang adalah Pencobaan. Jadi jangan alergi dengan pencobaan kalau Allah mengisinkan sebuah pencobaan terjadi dalam hidup kita, tetapi jangan juga mencari-cari pencobaan. Bagaimana kita tahu bahwa iman kita adalah iman yang tahan uji? Anda bisa periksa iman anda dengan Ketekunan. Jika terjadi sebuah peristiwa yang luar biasa berat dalam hidup anda, misalnya anda harus kehilangan seorang yang sangat anda kasihi, anak misalnya. Dan karena kecewa dengan Tuhan anda yang tadinya rajin ke gereja mulai malas, anda yang tadinya rajin ikut kebaktian rumah tangga, menjadi malas dan lain sebagainya.
  2. ayat 6. iman adalah dasar kita dalam meminta sesuatu kepada Allah. Kalau anda memiliki pengalaman hidup yang berat, kemudian anda memohon sesuatu kepada Allah maka mohonlah itu dalam iman. Lalu setelah anda memohon dalam iman kemudian yang anda mohon tidak terjadi, apa yang salah? Tidak ada yang salah. Sebab iman kita mengatakan bahwa Rancangan Tuhan kepada kita adalah rancangan damai sejahtera dan hari depan yang baik, bukan rancangan kecelakaan. Artinya sesuatu yang Tuhan isinkan terjadi di dalam hidup kita selama kita beriman kepadaNya maka yakinlah Tuhan tahu apa yang sedang Ia lakukan.
  3. 2 : 17. ini pernyataan yang menarik dari Yakobus, ia tidak pusing soal apa arti iman, maksudnya tidak perlu teori tentang apa itu iman. Bagi Yakobus iman adalah hal yang sederhana. Iman dapat dikenali dari perbuatan seseorang. Kita akan tahu apakah ia beriman secara benar atau tidak dari apa yang diperbuatnya. Jangan seperti kondektur bus yang berteriak-teriak sentral-sentral, mari naik pak langsung sentral tidak singgah-singgah. Semua orang naik dan ketika bus sudah penuh ia tidak ikut bersama dengan bus itu. Saya khawatir akan banyak dari orang Kristen bernasib seperti kodektur bus. Mereka setiap hari berteriak-teriak inilah jalan keselamatan, barang siapa tidak percaya akan binasa, mari ikutlah jalan ini. Dan ketika tiba saatnya, semua orang sudah berangkat ternyata kita tetap tinggal berteriak-teriak, mengapa sebab kita sendiri sebenarnya tidak pernah mau berangkat (mengambil tindakan), kita hanya berbicara. Karena itu bagi Yakobus iman yang benar akan kelihatan dari perbuatan yang benar. Bukan iman yang benar kelihatan dari teori yang benar tentang iman.

Sekarang jelas bagi kita iman bukan sesuatu yang hanya dipercakapkan, melainkan dibuktikan melalui perbuatan kita sehari-hari, kemudian iman kita harus selalu di uji dan ujian yang paling baik adalah pencobaan, sebab hasil dari ujian tersebut adalah ketekunan, jadi jikalau anda menghadapi pencobaan dan setelah itu anda semakin rajin datang pada Tuhan berarti anda lolos uji tetapi jika kerajinanmu kendur maka iman anda perlu di perkuat lagi. Dan yang terakhir iman kita tersebut akan sangat membantu kita dalam memohon sesuatu kepada Allah dan sekaligus membantu kita dalam memahami maksud dan rencana Tuhan dalam hidup ini.

Amin

KOTBAH KENAIKAN YESUS 2009

Sudah Selesai

(Kisah Para Rasul 1:1-11, Lukas 24:44-53)


Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kis. 1:11).

Inilah sapaan kedua malaikat kepada para murid yang terpana menyaksikan peristiwa kenaikan Yesus. Mereka terpaku menyaksikan Yesus, Guru mereka, pergi meninggalkan mereka dalam kemuliaan-Nya. Cara begini memang bukan hal biasa. Tak heran mereka semua terpaku menyaksikan peristiwa itu.

Ya, mereka terpaku. Sekali lagi, peristiwa kenaikan Yesus dalam kemulianlah yang membuat mereka terpukau. Merupakan hal yang wajar jika mereka terpaku. Ya, mereka terpaku karena terpukau. Tetapi, keterpakuan itulah yang membuat mereka untuk sesaat lupa diri. Keterpakuan itu pulalah yang membuat mereka lupa akan tugas mereka. Terpaku karena terpukau memang tidak salah. Menjadi salah kalau keterpakuan itu membuat mereka lupa akan kewajiban mereka. Dan karena itulah, malaikat langsung menegur mereka.

Kita tidak pernah tahu berapa lama para murid terpaku. Kita tidak pernah tahu berapa lama para murid menengadah ke langit. Tetapi, yang kita tahu dengan pasti mereka semua ditegur karena terlalu asyik memandang ke langit. Kita tahu dengan pasti bahwa para murid ditegur karena terlalu asyik menengadah.

Sekali lagi, menengadah tidaklah salah. Tetapi, terlalu asyik menengadah sehingga lupa persoalan sehari-hari bukanlah hal yang benar. Terlalu asyik menengadah sehingga tak hirau dengan kewajiban diri pastilah salah.

Teguran itu diawali dengan frasa Hai orang-orang Galilea. Frasa ini mengingatkan bahwa mereka adalah orang Galilea. Mereka seakan diingatkan akan asal-usul mereka. Mereka seakan diingatkan akan tempat di mana mereka tinggal.

Dan ini berarti bukanlah tanpa maksud Tuhan menempatkan mereka di tanah Galilea. Lebih tegas lagi, asal-usul seseorang, latar belakang seseorang, tempat tinggal seseorang bukanlah suatu hal yang kebetulan. Tuhan berkarya dalam semuanya itu. Bukanlah kebetulan melainkan kebenaran.

Sama halnya dengan keberadaan kita sekarang ini. Pada hemat saya bukanlah kebetulan saya seorang Chinese. Allah punya maksud saat Dia menempatkan saya lahir dan besar dalam keluarga Chinese. Dan bukan kebetulan pula jika pada waktu SMA, saya pindah ke-Surabaya. Saya meyakini Allah bekerja di dalam semuanya itu. Dan kalau gaya hidup saya adalah gaya Suroboyoan, saya yakin Allah punya kehendak khusus pula dalam diri saya. Persoalannya: apakah saya sungguh-sungguh mencari tahu apakah kehendak khusus Allah dalam diri saya.

Hai orang-orang Galilea. Frasa ini juga mengingatkan bahwa mereka masih berada di bumi. Mereka belum berada di surga. Dan jika mereka berada di bumi, itu berarti ada tanggung jawab yang harus dipikul. Ada karya yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Dan semua itu merupakan panggilan mereka sebagai manusia.

Jelas di sini bahwa panggilan manusia bukanlah diam, termenung, terpaku, melamun, berkhayal. Manusia dipanggil untuk bekerja. Dan itu berarti menghasilkan buah.

Itu jugalah yang dinyatakan Yesus, Sang Guru, sebelum Dia pergi meninggalkan mereka: ”Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” (Luk. 24:44).

Perhatikanlah kata digenapi yang dipakai di sini! Yesus adalah pribadi yang menggenapi. Dia menyelesaikan segala sesuatunya. Dia tidak meninggalkan pekerjaan rumah dan menyuruh orang lain yang mengerjakan pekerjaan rumah-Nya. Tidak. Dia menggenapi semua kewajiban yang harus diselesaikan-Nya. Dan di atas kayu salib, Yesus jugalah yang berkata, ”Sudah selesai.”

Sudah selesai. Tak ada lagi pekerjaan rumah. Sudah selesai. Tak ada lagi utang. Sudah selesai.

Dan sebagai pengikut Kristus, pada hemat saya, panggilan kita jugalah untuk berkata sudah selesai di akhir perjalanan hidup kita. Kita memang tidak akan pernah tahu kapan hidup kita berakhir. Oleh karena itu, kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan hari ini. Jangan tunda! Esok mungkin sudah terlambat.

Dan tugas setiap pengikut Kristus ialah menjadi saksi. Frasa-frasa Yerusalem, Yudea, Samaria, ujung-ujung bumi, itu berarti bahwa kita harus menjadi saksi di mana pun kita berada.

Baiklah kita tetap ingat: Kristen berarti pengikut Kristus. Artinya, panggilan seorang Kristen ialah tetap mengikuti Kristus dalam situasi dan kondisi apa pun. Ini bukan pilihan. Ini merupakan konsekuensi logis sebagai orang-orang yang memanggil dirinya sebagai Kristen.

Menjadi Kristen berarti menjadi pengikut Kristus. Menjadi Kristen berarti membiarkan Kristus yang berjalan di depan dan kita mengikuti Dia dari belakang. Menjadi Kristen berarti memikul salib kita masing-masing dengan setia.

Setia. Amsal menyatakan bahwa banyak orang menyebut diri baik hati, orang setia siapakah yang mendapatkannya? Banyak orang baik, namun tak banyak orang yang setia. Orang baik dalam kondisi kritis mungkin bisa menjadi tidak setia.

Setia berarti fokus. Setia berarti memokuskan diri pada apa yang dikerjakan. Fokus berarti kualitas pekerjaan dan bukan kuantitas pekerjaan. Fokus berarti lebih menekankan kepada mutu pekerjaan ketimbang banyaknya pekerjaan.

Fokus itu seperti seorang pelari maraton. Dia tidak asal berlari tanpa tujuan. Nggak lucu bukan? Berlari dengan cepat, sampai duluan, nomor satu. Tak ada yang mengikuti! Setelah setengah jam, ternyata di finis di tempat yang salah! Fokus!

Setia berarti menyelesaikan sesuatu hingga akhir. Setia berarti sampai selesai. Setia berarti tetap bertahan meski susah sungguh. Setia berarti tetap tak mau undur dari gelanggang meski capek. Setia berarti kalau sudah capek berlari, ya jalan saja. Kalau memang capek, benar-benar capek, ya istirahat! Jangan tinggalkan gelanggang!

Setia. Setia terhadap panggilan kita – entah panggilan sebagai suami, isteri, pacar, anak, orang tua, adik, kakak, karyawan, majikan, profesional, pejabat, warga jemaat, komisi, tua-tua, diaken, juga pendeta. Sekali lagi, jangan tinggalkan gelanggang!

Dan setia berarti mata kita tidak hanya memandang ke langit, tetapi memandang ke bumi, tempat kita berpijak.

Amin.

KOTBAH PASKAH 2009

II KORINTUS 4:1- 5: 10

Bapak/ibu yang terkasih dalam Tuhan, Siapa yang tidak sedih jika kehilangan orang yang dicintai, jika kehilangan orang yang dikasihi? Ada yang menangis ketika menghadapi suatu kenyaataan di mana orang yang dikasihinya di panggil oleh Sang Pencipta. Ada yang berteriak, ada marah, ada yang diam seribu bahasa dan memendam perasaan sedih itu di dalam hatinya.


Saya tidak akan membahas bagaimana cara atau metode yang paling pas dalam menghadapi duka cita, saya tidak menganjurkan untuk menangis misalnya, atau bersabar, dan lain sebagainya. Namun saya ingin kita “belajar memandang kematian”. Mengapa kita perlu untuk belajar memandang kematian, karena selama ini banyak orang yang lebih memilih untuk memalingkan pandangannya dari kematian, misalnya ada seorang suami yang begitu mencintai istrinya, namun suatu hari Tuhan mengambil istrinya tersebut dalam sebuah kecelakaan, dan sejak hari itu sang suami menyalahkan Tuhan karena menurutnya Tuhan telah berlaku tidak adil padanya. Sang suami ini memalingkan pandangannya dari kematian, ia tidak berani menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggal, sehingga ia mencari alasan untuk menenangkan gejolak hatinya itu.


Yang saya maksudkan dengan Belajar memandang kematian adalah menyadari dan memahami dengan benar apa itu kematian. Pemahaman yang benar terhadap suatu hal akan menghasilkan tindakan atau respon yang tepat menghadapi hal tersebut. Dengan kata lain tepat-tidaknya respon kita menghadapi kematian dan dukacita tergantung pada benar atau tidak pemahaman kita tentang kematian itu.

Mari kita lihat dalam pembacaan kita; Rasul Paulus mengatakan bahwa:

1. (4:18) Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
Coba perhatikan wajah-wajah yang ada disekitar kita. Ada wajah kanak-kanak, remaja, dewasa dan orang tua. Semua itu tidaklah kekal. Semua itu akan musnah! Lalu apa yang tersisah? Yang tidak kelihatan (ROH)

2. (5:1) Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.
Kiamat itu pasti terjadi. Semua yang ada disekitar kita, dalam bentuk apapun. Akan musnah, jadi apapun usaha manusia menghindari kematian akan sia-sia.

3. (5:5) Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.
Manusia adalah makhluk yang abadi. Ingat kisah penciptaan? Allah menciptakan manusia dengan dua unsur. Unsur yang pertama adalah tanah liat, unsur yang kedua adalah NAFAS dari Allah. Mengapa manusia saya katakana makhluk yang abadi, sebab dari semua ciptaan, hanya manusia yang mendapatkan hembusan nafas Allah dalam dirinya (ROH). Allah adalah abadi, dan karena itu manusia juga abadi. Lalu bagaimana dengan kematian? Ini yang penting kita renungkan!

Ada doa yang biasa disebut oleh saudara-saudara kita yang muslim ketika mendengar berita dukacita; innalillahi wa innalillahi roji’un artinya segala sesuatu dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Dengan kata lain kematian adalah perjalanan pulang seorang manusia kepada penciptanya. Bukan akhir dari segala-galanya. Kalau pemahaman ini tertanam dalam diri kita, maka kita pasti akan mampu merespon kematian dan dukacita dengan tepat. Bahkan lebih luar biasa bagi kita orang-orang yang percaya kepada Kristus, Yesus sendiri menjadi jaminan bahwa perjalanan itu akan sampai pada tujuan selama bersama dengan Dia.